Bagaimana menghadapi pola pikir “harus”?

image

Keyakinan “harus” adalah musuh diam-diam yang mencuri kegembiraan hidup, merusak ketenangan, dan menghambat hubungan yang sehat serta dekat dengan orang lain.

Inti dari pola pikir ini adalah gagasan tentang kewajiban.

Kata “harus” sendiri sering menjadi jebakan bahasa.

Makna “harus” adalah: hanya boleh begitu, tidak ada pilihan lain. Ungkapan seperti “harus”, “wajib”, “perlu” membuat kita merasa terjebak, karena seolah menggambarkan situasi tanpa alternatif.

Padahal, makna seperti ini hanya benar dalam kasus yang sangat jarang—hampir selalu menjadi pengecualian.

Misalnya, pernyataan “manusia harus bernapas” memang realistis, karena secara fisik tidak ada alternatif.

Namun pernyataan “tidak ada yang boleh terlambat” tidak realistis, karena dalam kenyataan hal itu bisa terjadi. Orang bisa terlambat, tertahan, atau bahkan tidak datang.

Lebih banyak konten di aplikasi

Anda hanya melihat sebagian konten, di aplikasi Anda akan menemukan banyak artikel interaktif. Juga tes psikologi dengan pelacakan dinamika kondisi, buku harian, jurnal pikiran otomatis, dan banyak lagi!

banner_image

Karena itu, memiliki keyakinan “harus” hampir pasti memunculkan stres—baik yang akut maupun kronis.

image

Jika Anda merasa dunia berutang sesuatu kepada Anda, itu akan menjadi sumber rasa sakit Anda. Ingatlah, dunia tidak berutang apa pun kepada siapa pun.

Buddha

Saat Anda menuntut orang lain bertindak, berkata, dan melakukan sesuatu sesuai standar Anda, Anda mengharapkan satu hasil tertentu saja.

Ini adalah sumber stres yang kuat, karena tidak pernah ada orang yang hidup dengan lingkungan yang selalu memenuhi ekspektasinya.

Bahkan para pemimpin paling berkuasa pun selalu memiliki orang-orang yang bertindak “tidak seperti seharusnya”.

Wajar jika, ketika kita bertemu seseorang yang bertindak “tidak seperti seharusnya”, ketegangan emosi meningkat. Dari sinilah muncul stres terus-menerus, sakit hati, dan sederet emosi negatif.

Pikirkan dari mana keyakinan ini berasal. Mungkin Anda dimanjakan saat kecil dan tidak diberi batas yang realistis, atau Anda mewarisi pola pikir ini dari orang tua. Mengetahui penyebabnya tidak otomatis menghapus keyakinan, tetapi itu langkah penting dalam proses perubahan.

Perhatikan cara Anda berbicara. Amati kata “harus”, “wajib”, “perlu” dalam ucapan Anda dan gantilah menjadi “saya ingin”, “saya lebih suka”, “saya berharap”.

Contoh: “Teman-teman saya harus menelepon duluan” diganti menjadi “Saya berharap teman-teman saya menelepon duluan”.

Makna kata-kata ini membentuk cara kita memandang situasi.

Dalam satu versi, itu adalah kebutuhan yang tak terelakkan—dan tanggung jawabnya seolah berada pada kekuatan luar (orang lain, alam, keadaan, dan sebagainya). Dalam versi lain, itu adalah pilihan bebas—dan tanggung jawabnya ada pada Anda.

Mengambil tanggung jawab atas pilihan memang tidak mudah, tetapi jalan ini memperbesar kebebasan dan mengurangi beban stres dalam jangka panjang.

Alih-alih berkata “orang lain berutang kepada saya ...”, tanyakan pada diri sendiri:

ok
Mengapa saya menganggap ini harus seperti itu?
ok
Apakah ada alternatif?
ok
Apa yang sebenarnya ingin saya capai dengan tuntutan ini?
ok
Apa manfaatnya jika ini terjadi seperti yang saya inginkan?

Temukan keinginan Anda yang sebenarnya—jujurlah pada diri sendiri. Apa yang Anda benar-benar inginkan ketika mengatakan bahwa seseorang atau sesuatu “berutang” kepada Anda? Nilai apa yang sedang Anda lindungi di sini?

Alih-alih menganggap orang lain tahu kebutuhan atau keinginan Anda, belajarlah menyampaikannya dengan jelas dan terbuka, serta meminta bantuan ketika diperlukan.

Cobalah memahami perasaan orang lain. Ingat, setiap orang punya urusannya masing-masing; mereka tidak selalu bisa mendukung, menghibur, memuji, atau memberi bantuan yang Anda butuhkan.

Biasakan menempatkan diri pada posisi orang lain dan mencari penjelasan alternatif atas suatu peristiwa—dengan begitu Anda menumbuhkan empati.

Daripada fokus pada apa yang “seharusnya” orang lain lakukan untuk Anda, fokuslah pada rasa syukur atas apa yang mereka lakukan.

Misalnya, bayangkan rekan kerja membantu Anda mengerjakan proyek padahal ia sendiri sangat sibuk. Alih-alih berpikir “Dia harus membantu saya, itu kewajibannya”, ubahlah menjadi: “Saya bersyukur rekan kerja saya membantu meski ia sibuk. Ia benar-benar profesional.”

Latihan syukur membantu kita melihat dan menghargai kebaikan orang lain, serta menciptakan suasana saling menghormati dan saling mendukung. Rasa syukur bisa diungkapkan secara pribadi maupun di depan umum, dan ini memperkuat relasi kita dengan orang lain.

Dunia tidak sempurna—jangan menuntut hal yang mustahil dari diri sendiri maupun orang lain. Jangan memaksakan dunia dan orang lain agar sesuai kehendak Anda; pada akhirnya itu tidak membawa hasil yang baik.

Melepaskan keyakinan yang irasional adalah proses panjang dan tidak selalu mudah. Tetapi itu layak diperjuangkan—perlahan Anda akan merasa lebih bebas, lebih bahagia, dan lebih percaya diri.

Bacaartikel lainnya